Minggu, 05 Juni 2016

Di Jambi Ada Timur Tengah

Pemandangan yang tampak antara kota Jambi dengan Seberang Kota Jambi (Sekoja) amatlah kontras. Sebelah selatan penuh gedung menjulang sementara sebelah utara terasa ‘kampung’ –nya. Sekoja terletak di utara yang masuk wilayah kota Jambi. Padahal dahulu kala di tempat inilah sebagai pusat ibukota Jambi. Suasana religi amat terasa dengan penduduk nan ramah. Khas Melayu. Banyak masjid, madrasah dan pondok pesantren tertua di sini. Adalah Datuk Sintai sebagai pembawa agama Islam pertama di Jambi, kira-kira 400 tahun lalu. Makamnya dapat kamu temukan di Kelurahan Mudung Laut, Kec Pelayangan. Kabarnya, Datuk Sintai adalah pejuang Islam di Jambi dari Cina. Sehingga, daerah Olak Kemang sampai Arab Melayu juga dikenal sebagi Kampung Pecinan-nya Jambi. Tapi ada satu tokoh lagi yang amat terkenal dikalangan masyarakat yakni bernama Sayid Husin Bin Ahmad Baragbah. Beliau adalah penyebar agama Islam keturunan Arab yang menikah dengan salahsatu anaknya Datuk Sintai. Jadi jelaslah, terasa sekali suasana pecinan-nya. Arsitektur perpaduan Melayu, China, dan Timur Tengah. Coba perhatikan nama-nama daerah ini, amat kental rasa Timur Tengah-nya: Arab Melayu – Tahtul Yaman - Tanjung Raden – Tanjung Johor – Tanjung Pasir – Olak Kemang – Kampung Tengah – Ulu Gedong – Jelmu – Kampung Laut – Pasir Panjang

Sabtu, 26 Maret 2016

SHELTER GUNUNG KERINCI

3.805 mdpl? Itu tinggi banget, gaiz!!... Gunung Kerinci. Siapa yang tiada kenal gunung tertinggi di Sumatera ini? Apalagi bagi pencinta alam dan petualangan. Jadi semacam ‘menu’ wajib ke destinasi ini. Dahsyatnya, Gunung Kerinci merupakan gunung api teraktif di Asia tenggara. Jika kamu mau mendaki ke sini, maka jalur umum melewati desa Kersik Tuo, kecamatan Kayu Aro dekat dengan kota Sungai Penuh, provinsi Jambi. Kersik Tuo berada pada ketinggian 1.400 mdpl dengan penduduk yang terdiri dari para pekerja perkebunan keturunan Jawa, sehingga bahasa setempat adalah bahasa Jawa. Gunung Kerinci masih merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra yang perlu dilindungi. Ada beberapa fakta tentang Gunung Kerinci biar kamu ga penasaran apa, sih hebatnya gunung ini: 1. Pastinya merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan gunung berapi tertinggi di Asia tenggara 2. Masuk dalam kawasan TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat). TNKS, yang kabarnya masih banyak #harimau, adalah taman nasional terbesar di Indonesia. Bahkan TNKS masuk ke dalam 4 provinsi; Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. 3. Nama lain Gunung Kerinci adalah: Korinci, Berapi Kurinci, Puncak Indrapura dan Gunung Gadang (gede). 4. Menjadi World Heritage Site untuk Tropical Rainforest Heritage of Sumatera 5. Ditetapkan sebagai kawasan konservasi pada tahun 1982, yang berada di wilayah TNKS Jika kamu naik sampai ke puncak gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif ini, apa aja yang bisa kamu lihat? OMG..kamu bisa liat view indah amat jelas; Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu bahkan Samudera Hindia . uniknya, Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Tentu saja ada Danau Gunung Tujuh. FYI, Danau Gunung Tujuh merupakan danau tertinggi di Asia tenggara. Keren, bukan? Ayo, angkat ranselmu. Mari berpetualang ke Jambi dan Kerintji!

Rabu, 23 Maret 2016

NGIRUP CUKO

Gimana rasanya #NgirupCuko?... Palembang amat terkenal dengan kuliner satu ini; Pempek. Padahal wilayah kerajaan Sriwijaya dan Melayu kuno dulu meliputi Sumatera bagian selatan termasuk Jambi dsb. Bahkan dari data penelitian yang ada bahwa kerajaan Sriwijaya pernah berpusat di DAS Batanghari yang sekarang masuk provinsi Jambi. Tepatnya sekitar percandian MuaraJambi sebagai situs percandian terluas di Asia Tenggara. Jadi kuliner ini hampir merata di wilayah sekitarnya. Okay, baiklah. Kita ga usah mempermasalahkan itu. Hmm, makanan ini tentu saja enak nian. Terbuat dari ikan yang dihaluskan dan sagu, serta beberapa komposisi lain seperti telur, bawang putih halus, penyedap rasa dan garam. Temannya adalah cuko (cuka) terbuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Terus adanya irisan dadu timun segar dan mie kuning. Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah ditumis dan dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting. Kabarnya dulu yang menemukan pempek atau empek-empek adalah si apek. Doi tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi). Ia merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek. Pempek bisa terbuat dari ikan belida, ikan tenggiri, gabus, kakap merah dll. Varian lainnya adalah laksan, tekwan, model, celimpungan dan lenggang.
Pokoknya kalau datang ke Palembang atau ke #Jambi, ga lengkap juga ga bawa oleh-oleh Pempek. Lemak, nian Oy!

TAMAN RIMBO

TAMAN RIMBO with Zoo Airport Bisa jadi Jambi adalah satu-satunya yang didapuk sebagai Zoo Airport pertama di Indonesia. Keren, bukan? Wahana ini terintegrasi antara Kebun Binatang dan bandara Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi. Cuma 5 menit, kok ke sini. Jalan kaki dari bandara juga bisa. Jika kelamaan nunggu atau delay beberapa jam, mending main kesini aja. Cuma 8 ribu perak tiket masuknya. Taman Rimbo punya koleksi berbagai jenis burung dan hewan langka lainnya seperti: burung rangkok, pelican laut, elang, rajawali, bangau, burung unta, beruang hitam, gajah dan buaya. Harimau Sumatera sebagai ikon fauna Provinsi Jambi tentu saja ada. Untuk berbagai jenis burungnya ditempatkan di dalam ruangan seperti bola yang besar, sedangkan untuk hewan langkanya pengunjung bisa mendekat ke kandang masing-masing hewan langka dan bisa memberikan makanan kepada hewan tersebut. Ada juga gajah yang bisa kamu coba tunggangi yang siap mengantarmu berkeliling arena.
Dulu objek wisata ini dibangun awal tahun 80-an dan menjadi andalan wisata kota Jambi. Sekarang Taman Rimbo makin berbenah can tambah cantik. Terus koleksi hewannya juga bertambah. So, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau. Main kesini, yak.

SELOKO BESAK KECIK

Apa Seloko semacam makanan?... Tentu saja bukan. Seloko (dialek Jambi) sama dengan Seloka (bahasa Indonesia). Seloko merupakan salahsatu bentuk sastra lisan (tutur) yang masih ada di wilayah Provinsi Jambi, sebagai bentuk kebudayaan daerah yang diwariskan turun-temurun. Ini adalah tradisi masyarakat Jambi. Biasanya seni tutur ini ditampilkan pada satu upacara adat atau acara-acara tradisional. Seloko bagi orang melayu, menurut pak Junaidi T Noor (budayawan Jambi), punya makna yang mendalam. Yakni mengandung pesan atau nasihat bernilai etika dan moral; sebagai alat kontrol sosial-kemasyarakatan, politik serta penjaga keserasian dengan alam; sebagai pandangan hidup; dan sebagai tuntunan hidup. Si pembaca Seloko disebut penyeloko. Nah, penyeloko biasanya menggunakan pantun atau sejenisnya yang diiringi dengan rima dan metrum yang mantap sehingga tidak jarang menarik perhatian bagi sebagian orang yang mendengarkan. Berikut beberapa contoh Seloko Jambi: “ Lembai Sekepeh Entak Sedegam” ( Lembai sekipas hentak sebunyi). Artinya seia sekata dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Tim musti kompak. Hidup jadi selaras. Ada lagi beberapa contoh Seloko termasuk desain #Jakoz ini: “Kecik dak Besebut Namo, Besak dak Disebut (diimbau) Gelar.” Contoh lain: • Anak dipangku, ponakan dibimbing. • Kalo aek keruh di muaro cubo tegok ke hulu • Ke aek bebungo pasir, ke darat bebungo rimbo adolah hak rajo • Rami ngeri di nan mudo, elok negeri di nan tuo • Duduk sorang besempit-sempit, duduk basamo balapang-lapang • Kampung bepagar adat, tepian bepagar bahaso • Sawah dalam ado mutlaknyo, ladang panjang ado batasnyo • Adat selingkung negeri, undang selingkung alam • Kato sorang kato bapecah, kato basamo kato mufakat • Ambik contoh kepado yang telah sudah, ambik tuah kepado yang menang • Berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan diatas, naik dari takak nan dibawah • Tepijak di benang arang, itam tapak. Tersuruk di bukit kapur, putih tengkuk. • Naik idak bepucuk, turun idak berakar, tengah-tengah diakuk kumbang, ke rimbo diterkam harimau, ke air ditangkap buayo. • Jangan sampe bepanas dalam belukar. • Nan buto penumbuk tepung, nan pekak pelepas meriam, nan lumpuh penunggu rumah, nan patah pengalau ayam • Jatuh ke aek hanyut, jatuh ke api hangus • Bak membelah betung, sebelah diinjak, sebelah gi diangkat tinggi • Berjalan kincir kerno aek, begoyang dahan kerno anginnyo • Betelur nyamuk di punggung • Beujo bepegang eko, beambur bepegang tali • Buluh tuo menyesak kalu ditebang dak beguno • Bungkal nan bepiawai arus nan bedengung • Burung kecik ciling mato, burung gedang duo suaro; titian galing dalam negeri pagar nan rapat makan tanaman • Dak telak nggigit tanduk, nggigit telingo • Dikit menjadi pembasuh, banyak menjadi musuh • Di mano titik di sano ditampung, di mano patah di sano disisip, di mano terbit di sano dituai • Elok cakap tengah berembug, buruk cakap serambi berembug • Jangan bepikir sekali sudah behemat sekali habis • Jatuh di tempat nan rato, anyut di arus nan tenang • Kalu dak tembilang patah tanaman tekalik • Keruh aek di ilir, perikso di ulunyo; senak aek di ulu, perikso di muaronyo • Laksano kayu di dalam utan patah tumbuh ilang beganti • Lain biduk nan dikayuh, asing sampan nan ditambat • Macam narik benang dalam tepung; benang dak putus, tepung dak beserak • Menurut runut nan terentang sejak bari, menempuh jalan nan berambah sejak dulu • Merantau baolah ayam betino jangan dibao ayam jantan • Naik lah dikungkung dahan turun lah dipasung banir • Padi ditanam tumbuh lalang, ayam di pautan ditangkap elang, ikan di pemanggangan tinggal tulang, di semak rimau mengadang, di aek pun buayo mengarang • Pandang aek pandanglah tubo, pandang ikan nan kan binaso • Patah lidah utang tumbuh, patah keris badan binaso • Salah langkah kaki patah, salah jangkau tangan putus • Tebing runtuh tepian beranjak, tanjung putus teluk beralih • Tonggak nan idak dapat digoyangkan, cermin gedang nan idak kabur • Ukur mato jangan diliat sajo, ukur telingo jangan didengar sajo; kurang sisik tunas menjadi So, cintai budaya lokalmu.

Minggu, 30 Agustus 2015

Meniti Batang Antui

dalah salahsatu persyaratan pernikahan dalam tradisi perkawinan Suku Anak Dalam. Yaitu prosesi berlari serempak ke dua calon pengantin meniti sebatang pohon yang dilintangkan di atas sungai, yang telah dikupas kulitnya sehingga sangat licin. Kalian harus melewati tantangan ini. Jika tidak, bisa gagal nikah, lho. *note:berlaku hanya pada tradisi Orang Rimba.

INI ADA DJAMBI

Hai, Ini Ada Chan-Pi (istilah I-Tsing; pelayar Tiongkok abad ke 9M)... Itu Ada Jambee (istilah Jawa)... Ini Ada DJambi (ejaan lama)... Itu Ada Jambi(ejaan baru) Hai, hai. singgahlah ke Jambi