Rabu, 25 Desember 2013

Pening Lalat

Maybe the same with G.A.L.A.U. Idiom ini acap dilontarkan oleh orang-orang tua kita dahulu di Jambi semisal; “Mak mano kau, ko. Macam PENING LALAT, bae.” Nah, kalau diterjemahkan bebas berarti sebuah ungkapan untuk menyatakan kebingungan orang yang tidak jelas arah tujuan, ke mana ingin melangkah dan apa yang mau diperbuat serasa dilihat orang lain aneh. Pening Lalat alias Galau bin Uring-uringan emang acap terjadi pada anak-anak muda yang lagi tumbuh-tumbuhnya mekar bak bunga di musim rambutan. Bisa jadi sedang dilanda; galau karena tugas belum dikerjakan, galau karena ditinggal doi, galau abis dimarahi tukang siomay karena piring berikut sendoknya dibawa kabur, de el el. Galau, galau, galau temennya Pening Lalat. So, kalau kanti liat sohibnya seperti itu bisa dipastikan dia lagi terjangkit sindrom yang menyerang seseorang super dadakan dan yang mengalaminya ga kerasa: PENING LALAT. Berhati-hatilah!

Berdayung Sampan

Batanghari airnya lah tenang… Sungguh pun tenang deraslah ke tepi….. Sungai Batanghari memang lah tenang, pabila kanti liat tampak dari atas permukaan. Tapi sungguh, di bawahnya tentu begitu deras dan dalam. By the way busway, ga ada salahnya kalo kanti dan sodara-sodara se bangsa se tanah air mencoba berdayung sampan di Batanghari sebagai sungai yang terpanjang di Sumatera ini. Kalo Jakoz menyarankan jangan di sungai beralur lebar dan dalam ya, bahaya! Selain masih banyak kapal sejenis tongkang dan kapal barang serta teman-temannya yang hilir mudik dari hulu ke hilir dan sebaliknya dan dari kota Jambi ke SEKOJA juga terdapat jenis transportasi sungai lainnya seperti KETEK. Nah ini perahu lebih kecil namun bermesin yang menghasilkan bunyi-bunyian ‘tek..tek..ketek..keteekkkkkk!” something like that lah, Bro. Jakoz menyarankan bila kanti ingin berdayung sampan, asiknya di percandian Muarajambi sahaja. Di sana ada Danau Kelari, lho. Itu tuh, settingnya Rakai (tokoh perempuan Melayu abad ke 11M) dengan lelaki pujaan hatinya asal Tibet, Tsampa yang akhirnya bertemu dipelaminan yang termaktub dalam novel Chan-Pi “Hikayat Cinta Negeri Melayu.” Dah baca, belom? Trus bisa juga menyusuri beberapa jalur lain seperti Amburan Jalo, Parit Sekapung dan Parit Johor sambil menimati flora dan fauna di sekitar situs percandian terluas se Asia Tenggara ini. Apalagi berdayung sampan pas percandian Muarajambi sedang dilanda banjir. Nah di sana, banyak anak-anak kecil menyewakan perahunya (sekitar Rp 5000 untuk ½ jam!)

Senin, 12 Agustus 2013

Batik Khas Jambi Kontemporer #2

Batik Jambi; Eksotika Seni & Budaya dari Sumatra Timur Penulis: Zenovic- Jakoz
Solo, Pekalongan, Yogyakarta dan kota Lasem di Jawa Tengah adalah beberapa sentra produksi perajin batik nusantara. Tapi siapakah yang mengenal batik khas Jambi? Tentu tidak jamak masyarakat Indonesia mengenalnya. Pada masanya penggunaan batik Jambi hanyalah dimiliki oleh kaum terpandang; bangsawan, sultan dan perwira kerajaan Melayu. Hal ini mencerminkan status sosial yang tinggi bagi pemakainya. Kepopuleran batik Jambi sudah berlangsung pada era kesultanan Melayu Jambi, penjajahan Belanda, hingga tibanya penjajah Jepang ke Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini bahkan jaman perang kemerdekaan berkobar. B. M Goslings dalam artikelnya menyatakan bahwa atas persetujuan Prof Eerde, ia meminta Residen Jambi (pada waktu itu), H. E. K Ezermann, untuk meneliti batik Jambi yang ada di kawasan Dusun Tengah (Kampung Tengah), karena di wilayah itu ternyata ada perajin batik yang menghasilkan karya nan indah. Berhubung batik Jambi belumlah sepopuler batik-batik Jawa, maka pada tahun 80-an pemerintah pada waktu itu membina dan mengembangkan batik Jambi lebih intensif dan memproduksinya secara massal dengan pewarnaan asli. Dan memasuki era tahun 1990-an karena pengaruh batik Jawa seperti Cirebon dan Pekalongan maka warna-warna dari motif batik terlihat lebih cerah. Adapun pewarnaan batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami (nature) seperti; campuran dari aneka ragam kayu dan tumbuhan, getah kayu lambato, buah rambutan, kayu sepang bahkan salah satu perajin batik Seberang Kota Jambi, Dua Putri, pernah mencoba dengan kulit buah Jengkol. Dan ini cukup menarik salah seorang penulis Belanda hingga ia menulisnya dan pernah dimuat di majalah salah satu maskapai penerbangan Indonesia tujuan luarnegeri (GarudaMagz) tahun 2010 kemarin. Motif Jambi berikut pewarnaannya juga melambangkan filosofi masyarakat Jambi yang ceria dan egaliter bahkan kepada kaum pendatang. Sejauh ini sudah terdapat 31 motif batik tulis Jambi seperti; durian pecah, riang-riang, pauh/mangga, angso duo kaca piring dan lain-lain. Apalagi di daerah kabupaten seperti Bangko dan Sarolangun juga banyak terdapat motif dan corak yang berbeda pula. Kini tinggal bagaimana kita generasi penerus mampu melestraikannya. Kreativitas dan inovatif tiada henti. Cinta Jambi…Pakai Batik Jambi! By: Jakoz, Pabrik Oleh-oleh Berbumbu Jambi; Oleh-oleh Khas Jambi 1 Agustus 2013 Diolah dari berbagai sumber

Batik Khas Jambi Kontemporer #1

Batik Jambi; Eksotika Seni & Budaya dari Sumatra Timur Penulis: Zenovic- Jakoz Solo, Pekalongan, Yogyakarta dan kota Lasem di Jawa Tengah adalah beberapa sentra produksi perajin batik nusantara. Tapi siapakah yang mengenal batik khas Jambi? Tentu tidak jamak masyarakat Indonesia mengenalnya. Pada masanya penggunaan batik Jambi hanyalah dimiliki oleh kaum terpandang; bangsawan, sultan dan perwira kerajaan Melayu. Hal ini mencerminkan status sosial yang tinggi bagi pemakainya. Kepopuleran batik Jambi sudah berlangsung pada era kesultanan Melayu Jambi, penjajahan Belanda, hingga tibanya penjajah Jepang ke Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini bahkan jaman perang kemerdekaan berkobar. B. M Goslings dalam artikelnya menyatakan bahwa atas persetujuan Prof Eerde, ia meminta Residen Jambi (pada waktu itu), H. E. K Ezermann, untuk meneliti batik Jambi yang ada di kawasan Dusun Tengah (Kampung Tengah), karena di wilayah itu ternyata ada perajin batik yang menghasilkan karya nan indah. Berhubung batik Jambi belumlah sepopuler batik-batik Jawa, maka pada tahun 80-an pemerintah pada waktu itu membina dan mengembangkan batik Jambi lebih intensif dan memproduksinya secara massal dengan pewarnaan asli. Dan memasuki era tahun 1990-an karena pengaruh batik Jawa seperti Cirebon dan Pekalongan maka warna-warna dari motif batik terlihat lebih cerah. Adapun pewarnaan batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami (nature) seperti; campuran dari aneka ragam kayu dan tumbuhan, getah kayu lambato, buah rambutan, kayu sepang bahkan salah satu perajin batik Seberang Kota Jambi, Dua Putri, pernah mencoba dengan kulit buah Jengkol. Dan ini cukup menarik salah seorang penulis Belanda hingga ia menulisnya dan pernah dimuat di majalah salah satu maskapai penerbangan Indonesia tujuan luarnegeri (GarudaMagz) tahun 2010 kemarin.
Motif Jambi berikut pewarnaannya juga melambangkan filosofi masyarakat Jambi yang ceria dan egaliter bahkan kepada kaum pendatang. Sejauh ini sudah terdapat 31 motif batik tulis Jambi seperti; durian pecah, riang-riang, pauh/mangga, angso duo kaca piring dan lain-lain. Apalagi di daerah kabupaten seperti Bangko dan Sarolangun juga banyak terdapat motif dan corak yang berbeda pula. Kini tinggal bagaimana kita generasi penerus mampu melestraikannya. Kreativitas dan inovatif tiada henti. Cinta Jambi…Pakai Batik Jambi! By: Jakoz, Pabrik Oleh-oleh Berbumbu Jambi; Oleh-oleh Khas Jambi 1 Agustus 2013 Diolah dari berbagai sumber

Selasa, 23 Juli 2013

Bersandal-sandal dahulu, ke Jambi kemudian

Sandal Jakoz, Jakoz punya Sandal. Alas kaki. Beyik buat jalan-jalan, oleh-oleh, cinderamata. Dan sejumput kenangan di Jambi.